Rabu, 26 Oktober 2011

KEWIRAUSAHAAN

Halo readers..sudah lama tidak menulis di blog ini, rindu juga untuk memberikan informasi-informasi yang baru buat kalian J. Saat ini saya akan memberikan sedikit informasi tentang kewirausahaan. Berikut ini adalah definisi wirausaha menurut beberapa sumber.

Wirausaha adalah orang yang mengambil resiko dengan jalan membeli barang sekarang dan menjual kemudian dengan harga yang tidak pasti (Cantillon).

Wirausaha adalah orang yang memindahkan sumber-sumber ekonomi dari daerah dengan produktivitas rendah ke daerah dengan produktivitas dan hasil lebih tinggi (J.B Say).

Wirausaha adalah orang yang menciptakan cara baru dalam mengorganisasikan proses produksi (Schumpeter).

Menurut saya pribadi, wirausaha adalah orang yang mampu mengidentifikasi masalah dan mengambil resiko untuk menghasilkan cara baru dan berbeda dari yang sudah ada, dan mampu menciptakan sistem ekonomi yang bebas dengan caranya sendiri.

Dengan berwirausaha banyak sekali kepuasan yang dapat dirasakan oleh sang wirausahawan. Kepuasan karena mendapatkan keuntungan dari usaha yang dilakukan dengan caranya sendiri. Kepuasan dalam menjalani hidup karena telah mampu membiayai kehidupannya dengan caranya sendiri. Kepuasan akan kebebasan berinovasi atas usaha yang telah dibuatnya, dan kepuasan-kepuasan lainnya.

Ada kepuasan, ada juga kerugian atau kekurangan yang akan dihadapi dalam berwirausaha. Setiap usaha yang dijalani tidak akan selamanya sukses, ada kalanya usaha yang kita buat gagal atau bangkrut. Selain itu tekanan emosional yang harus dihadapi pada saat berwirausaha juga cukup keras. Namun, apapun itu semuanya akan dapat dihadapi jika kita sebagai wirausahawan mau bekerja keras dan memiliki komitmen akan pekerjaan atau usaha yang kita lakukan. Jadi, kita tidak perlu takut untuk mencoba berwirausaha, Tuhan tidak akan membiarkan umatnya yang sudah berusaha, bekerja dan berdoa terjatuh (merugi). J

Menurut pendapat M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer, (1993), seseorang akan dapat melakukan kewirausahaan jika dirinya memili karakteristik-karakteristik berikut ini:

1. Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.

2. Lebih memilih risiko yang moderat.

3. Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil

4. Selalu menghendaki umpan balik yang segera

5. Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan

6. Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.

7. Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan

nilai tambah

8. Selalu menilai prestasi dengan uang.

Sedangkan, David McCleland mengindikasikan ada korelasi positif antara tingkah laku orang yang memiliki motif prestasi tinggi dengan tingkah laku wirausaha. Karakteristik orang-orang yang mempunyai motif prestasi tinggi adalah:

1. Memilih resiko “moderate” Dalam tindakannya dia memilih melakukan sesuatu yang ada tantangannya, namun dengan cukup kemungkinan untuk berhasil.

2. Mengambil tanggung jawab pribadi atas perbuatan-perbuatan. Artinya kecil sekali kecenderungan untuk mencari “kambing hitam” atas kegagalan atau kesalahan yang dilakukannya.

3. Mencari umpan balik (feed back) tentang perbuatan-perbuatannya.

4. Berusaha melakukan sesuatu dengan cara-cara baru.

Sedangkan untuk karakteristik pribadi wirausaha (personal entrepreneurial characteristics) yang disebutkan oleh Management Systems International sebagai berikut:

1. Mencari peluang

2. Keuletan

3. Tanggungjawab terhadap pekerjaan

4. Tuntutan atas kualitas dan efisiensi

5. Pengambilan resiko

6. Menetapkan sasaran

7. Mencari informasi

8. Perencanaan yang sistematis dan pengawasannya

9. Persuasi dan jejaring/koneksi

10. Percaya diri

Kewirausahaan juga banyak memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Antara lain, membuka pikiran orang-orang sekitarnya bahwa kita mampu melakukan hal-hal yang baru dan berbuah positif. Selain itu, menbuat oraang-orang sekitar kita terketuk hatinya untuk lebih semangat lagi dalam bekerja dan berusaha.








Sumber:

http://entrepreneur.gunadarma.ac.id/e-learning/attachments/039_Kewirausahaan.pdf

http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=kewirausahaan&source=web&cd=31&ved=0CCgQFjAAOB4&url=http%3A%2F%2Fahim.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads%2Ffiles%2F7311%2FKewirausahaan.doc&ei=MT6oTtH8Ms6srAec6eDnDQ&usg=AFQjCNHNFCxRzHrJxNE4AZf-NIhoRuYaaw&sig2=hLpZ4heNGKPgRJeTvUr8rQ&cad=rja

Selasa, 03 Mei 2011

Line Balancing

Line balancing merupakan metode penugasan sejumlah pekerjaan ke dalam stasiun-stasiun kerja yang saling berkaitan/berhubungan dalam suatu lintasan atau lini produksi sehingga setiap stasiun kerja memiliki waktu yang tidak melebihi waktu siklus dari stasiun kerja tersebut. Menurut Gasperz (2000), line balancing merupakan penyeimbangan penugasan elemen-elemen tugas dari suatu assembly line ke work stations untuk meminimumkan banyaknya work station dan meminimumkan total harga idle time pada semua stasiun untuk tingkat output tertentu, yang dalam penyeimbangan tugas ini, kebutuhan waktu per unit produk yang di spesifikasikan untuk setiap tugas dan hubungan sekuensial harus dipertimbangkan.


Selain itu dapat pula dikatakan bahwa line balancing sebagai suatu teknik untuk menentukan product mix yang dapat dijalankan oleh suatu assembly line untuk memberikan fairly consistent flow of work melalui assembly line itu pada tingkat yang direncanakan.

Assembly line itu sendiri adalah suatu pendekatan yang menempatkan fabricated parts secara bersama pada serangkaian workstations yang digunakan dalam lingkungan repetitive manufacturing atau dengan pengertian yang lain adalah sekelompok orang dan mesin yang melakukan tugas-tugas sekuensial dalam merakit suatu produk. Sedangkan idle time adalah waktu dimana operator/sumber-sumber daya seperti mesin, tidak menghasilkan produk karena: setup, perawatan (maintenance), kekurangan material, kekurangan perawatan, atau tidak dijadwalkan.

Tujuan line balancing adalah untuk memperoleh suatu arus produksi yang lancar dalam rangka memperoleh utilisasi yang tinggi atas fasilitas, tenaga kerja, dan peralatan melalui penyeimbangan waktu kerja antar work station, dimana setiap elemen tugas dalam suatu kegiatan produk dikelompokkan sedemikian rupa dalam beberapa stasiun kerja yang telah ditentukan sehingga diperoleh keseimbangan waktu kerja yang baik. Permulaan munculnya persoalan line balancing berasal dari ketidak seimbangan lintasan produksi yang berupa adanya work in process pada beberapa workstation.

Persyaratan umum yang harus digunakan dalam suatu keseimbangan lintasan produksi adalah dengan meminimumkan waktu menganggur (idle time) dan meminimumkan pula keseimbangan waktu senggang (balance delay). Sedangkan tujuan dari lintasan produksi yang seimbang adalah sebagai berikut:
1. Menyeimbangkan beban kerja yang dialokasikan pada setiap workstation sehingga setiap workstation selesai pada waktu yang seimbang dan mencegah terjadinya bottle neck. Bottle neck adalah suatu operasi yang membatasi output dan frekuensi produksi.
2. Menjaga agar pelintasan perakitan tetap lancar.
3. Meningkatkan efisiensi atau produktifitas.

Metode Line Balancing
Dalam penyelesaian soal dengan menggunakan line balancing, dikenal 3 metode, yaitu :
1. Metode Heuristic, yaitu suatu metode yang berdasarkan pengalaman, intuisi atau aturan-aturan empiris untuk memperoleh solusi yang lebih baik daripada solusi yang telah dicapai sebelumnya, yang terdiri atas:
a. Ranked Positional Weight/Hegelson and Birine
b. Kilbridge`s and Waste/Region Approach
c. Large Candidate Rule
d. Al Arcu`s
2. Metode Analitic atau matematis, yaitu metode penggambaran dunia nyata melalui simbol-simbol matematis berupa persamaan dan pertidaksamaan. Yang termasuk metode ini adalah Branch and Bound.
3. Metode Simulasi, yaitu metode yang meniru tingkah laku sistem dengan mempelajari interaksi komponen-komponennya. Karena tidak memerlukan fungsi-fungsi matematis secara eksplisit untuk merelasikan variabel-variabel sistem, maka model-model simulasi ini dapat digunakan untuk memecahkan sistem kompleks yang tidak dapat diselesaikan secara matematis.
a. CALB (Computer Assembly Line Balancing or Computer Aided Line Balancing)
b. ALBACA (Assembly Line Balancing and Control Activity)
c. COMSOAL (Computer Method or Saumming Operation for Assemble)